Bisnis Jalan, Pengusahanya Banyak Gaya.

Ini cerita tentang pengusaha di negeri AntahBerantah. Di sana sedang terjadi euphoria wirausaha. Dimana-mana orang ingin jadi pengusaha. Di kantor, di pinggir jalan, di dekat masjid, di rumah, dimana-mana orang ingin jadi pengusaha. Di milis, orang jualan. Di forum-forum internet orang juga jualan. Di facebook dan twitter juga. Di Grup BB, apalagi. Via SMS, ga mau kalah.

Orang yang hampir pensiun, ingin jadi wirausaha. Lumayan pesangonnya besar, sayang kalau cuma dihabiskan begitu saja. Begitu alasannya.

Orang yang sudah mapan bekerja, merasa tidak nyaman, dan berkata,“kayaknya lebih enak wirausaha.” Waktu lebih bisa diatur, masuk kantor bisa semau saya. Ga ada yang ngatur-ngatur. Bangun tidur bisa siang-siang. Dan segudang alasan lainnya.

Suami yang melihat istrinya bekerja di kantor, meminta istrinya resign.“Sudah, kamu bekerja saja dari rumah. Work at Home Mom, saja ya.., biarlebih banyak waktu untuk anak-anak kita” kata suaminya.

Yang lebih parah, suami yang melihat istrinya “menganggur” di rumah (padahal kan kerjaan istri di rumah banyak sekali ya..), dimodali untuk memulai wirausaha. “Coba kamu cari penghasilan sampingan deh. Nanti kalau penghasilan dari usaha itu sudah lebih dari gaji saya, saya resign untuk bantu membesarkan usaha itu. Gimana?” Begitu kata suaminya. Bener-bener deh..

Orang yang lulus kuliah, tidak mau jadi pegawai. Harus jadi pengusaha semua. Sekarang gak keren kalau bekerja di tempat orang lain. Lebih keren jadi pengusaha.

Orang yang baru masuk kuliah, eh dipaksa-paksa sama seniornya harus jualan. “Kamu harus punya usaha. Karena jadi pengusaha masa depan cerah,” Kata seniornya. Mudah-mudahan saja orang yang baru masuk kuliah tersebut, tetap rajin kuliahnya dan tetap berprestasi. Kalau tidak, masuknya ke pembahasan, “Bisnisnya jalan, Kuliahnya berantakan”, hehe..

Eh, bahkan anak TK, dan SD, anak bau kencur, sudah disuruh jualan. Ada orang tua yang nitipin dagangannya sama anaknya untuk dijual ke teman-temannya. “Kalau untung, nanti dibagi dua sama ibu ya Kak, kan ibu investornya..” kata ibunya sambil menjelaskan enaknya punya penghasilan sendiri. Ada juga yang pulang sekolah, langsung ke toko pamannya untuk magang. Canggih ya..

Itulah sekilas tentang euphoria wirausaha di negeri antah berantah. Menarik sekali ya.. Dimana-mana diselenggarakan seminar wirausaha. Mulai skala RT sampai skala nasional. Mulai dari yang gratisan sampai yang berbayar puluhan bahkan ratusan juta. Mulai dari yang lesehan di pinggir danau (biar lebih asri dan ramah lingkungan, katanya), sampai yang diadakan di kapal pesiar. Bahkan ada yang mengadakan seminar sambil Umroh.. “Ilmunya dapet, ibadahnya juga dapet..,” begitu katanya.

Bisnis kartu nama juga jadi menggeliat. Karena setiap orang bisa punya 3-4 usaha. Jadi setiap orang minimal harus punya 3-4 kartu nama yang berbeda. Belum kalau istrinya ikut mengelola usaha, kan harus ada kartu namanya juga, jadi order double deh.. Nanti mengeluarkan kartu namanya, tergantung mau ketemu siapa. Ketemu si A, keluarkan kartu nama usaha yang nomor 3. Ketemu si B, keluarkan kartu nama usaha yang nomor 1. Dan seterusnya, mantap kan?

Nah, kalau di Indonesia sedang ramai istilah “Bisnisnya Jalan, Pengusahanya Jalan-jalan”, sementara di negeri AntahBerantah ini yang lagi populer adalah “Bisnisnya Jalan, Pengusahanya Banyak Gaya”. Apa itu maksudnya? Maksudnya, di negeri AntahBerantah, setelah seseorang berwirausaha, banyak perubahan yang terjadi pada diri orang tersebut. Jadi lebih banyak gayanya. Jadi lebih bertingkah. Kita lihat indikasinya dibawah ini.

1. Lebih Malas.
Dulu ketika bekerja sama orang, subuh sudah bangun, dan siap-siap berangkat kerja. Pulang kerja baru jam 9 malam sampai rumah. Sekarang sudah jadi pengusaha, gayanya beda. Habis subuh tidur lagi, bangun jam 8. Olahraga, cari sarapan, mandi, jam 10.30 baru sampai tempat usaha. “Kan sudah ada karyawan..” begitu alasannya. Jam 12 sudah siap-siap makan siang. “Hari ini makan siang dengan beberapa teman SMA nih”. Jadi jam 3 baru sampai kantor lagi. Jam 5, pegawai pulang, dia ikut pulang juga. “Enak jadi pengusaha, ga ada yang marahin,” begitu gumamnya. Ampuun dah..

2. Gaya hidup naik (lebih boros).
Dulu waktu jadi karyawan, kemana-mana cukup pakai motor. Sekarang, keuntungan belum seberapa, sudah mikir mau kredit mobil. “Mobilitas sy sebagai pengusaha sudah tinggi,” katanya. Dulu, kalau makan siang bawa bekal dari rumah. Atau kalau tidak bawa, yah beli di warteg lah, atau nasi padang. Sekarang kalau makan, harus di mall, café, atau restoran. “Beda dikit aja kok sama warung padang, tapi suasananya itu lho..,” katanya.
Kalau dulu, jalan-jalan paling keliling-keliling kota saja. Atau paling keren ke mall. Kalau sekarang, jalan-jalan mesti ke luar kota. Yogya, Bali, bahkan ke luar negeri. “Refreshing,” katanya. Setelah di hitung-hitung oleh istrinya (sebagai partner bisnis dan direktur keuangan), biaya hidup naik lebih besar dari keuntungan bersih bulan ini. Nah lho..

3. Kurang Sabar
Ingin bisnisnya cepat besar. Rasanya OK banget gitu kalo punya buanyak cabang. Akhirnya sradak sruduk cari mitra. Tidak ada seleksi ketat lagi. Lokasi di gang sempit yg jarang dilalui orang pun diberikan hak menjadi mitra. Ujungnya sudah ketebak. Sukses dalam 1 bulan! Sukses tutup, maksudnya. Ada juga orang yg super sibuk minta jadi mitra, dikasih juga. Ujungnya sudah ketebak, setelah 3 bulan dia lupa kalau pegang cabang kita.. Pada akhirnya banyak cabang yang tutup, citra kita bukan makin bagus kan? Ingin punya banyak cabang, tapi fondasi gak dikuatin. Sistem tidak dibuat. SDM tidak dididik, seleksi mitra tidak ketat. Ibarat naik tangga, dari anak tangga ke-1 ingin langsung ke anak tangga ke-10..

4. Selalu tergoda untuk terjun ke bisnis orang lain (kurang fokus) Rumput tetangga kelihatan lebih hijau dari rumput halaman sendiri. Orang yang bisnis fashion, ingin bisnis kuliner. Orang yang punya bisnis kuliner, bilangnya “kayaknya enak nih bisnis konveksi.” Melihat orang bisnis website, dia ikut-ikutan bisnis website. Padahal bukan core competence nya. Akibatnya, kerjaan tidak beres, dimarah-marahin orang, bisnis utama dia yang lama malah tidak terurus. Hadeeeh..

5. Tidak mau belajar
Mentang-mentang sudah jadi owner, semua pekerjaan diserahkan kepada karyawan. Tidak mau belajar manajemen SDM. Tidak mau belajar bagaimana marketing yg inovatif, customer service yang baik, mengelola pasukan sales dll. Tidak mengerti bikin dan baca laporan keuangan. Belum lagi bicara strategic management, mau sebesar apa bisnis kita 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun kedepan. “Kan ada karyawan..”, kilahnya. Kalau karyawannya kabur, baru deh kelimpungan..

6. Senang tampil dan makin narsiss
Yaa gitu deh.. Sudah jelas kan? Hehe..

7. Silakan tambahin usulan sendiri..
Demikianlah pengusaha di negeri Antah Berantah. Mudah-mudahan tidak terjadi di Indonesia ya.. Aamiin

NB. Ini sebenarnya hasil refleksi dan evaluasi diri sendiri..

Regards,
Sumber dari millist