Tags

, , ,


Pengusaha adalah Jalan Hidupku

Bismilllahirrahmanirrahiim…

Di dunia ini, banyak sekali orang jahat, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang baik. Sebenarnya apa sih yang bisa membuat orang berbuat jahat atau baik, yang bisa menentukan kita dalam bersikap dan berbuat?? Menurut saya semuanya bergantung pada 20 % tingkah laku dan 80% mind set kita, jadi apapun yg kita lakukan lebih dominan dipengaruhi oleh mind set atau pola pikir kita. Pola pikir ini dikembangkan bukan dengan membaca buku atau belajar teori2 saja, tetapi dengan berkumpul, berdiskusi dan membentuk komunitas, karena lingkungan lah yang cenderung mempengaruhi mind set kita. Contohnya, anak punk akan bergaul dengan anak punk, mind setnya “kalo saya mukul orang, maka saya eksis. Kalo saya ngancurin mobil orang maka saya eksis, klo saya berantem dengan gank lain, maka saya eksis” terlepas dari benar dan salah tapi itulah mind set yang telah terbentuk dalam komunitas tersebut. Ada lagi contoh lainnya, Gank motor atau orang yang suka naik motor kebut2an… mereka bergabung dalam sebuah komunitas pencinta motor.. gimana cara mereka naik motor?? Sudah pasti dengan ngebut2an.. karena mind set yang telah terbangun dipikiran mereka adalah klo naik motor pelan maka CUPU, klo naik motor ngebut2an maka KEREN. Bahaya ga?? Salah gak?? Gak peduli, yang pasti menurut mereka itu benar, inilah yg dinamakan mind set. Dan mind set dibentuk oleh lingkungan, tidak hanya dengan membcca buku dirumah atau belajar dikuliah.

Begitu pula ketika kita ingin menjadi pengusaha. Maka kita harus memiliki mind set seorang pengusaha sejati, gak boleh setengah2. Cara gampangnya, gabung dengan komunitas2 pengusaha, atau dekati teman2 kita yg memiliki jiwa pengusaha. Oleh Karena itu, modal awalnya adalah NEKAT. Kalo mau jadi pengusaha gak boleh setengah2, ngebangun mind setnya juga ga setengah2. Ibarat kita melaksanakan taubat juga ga setengah2, dari kejahatan menuju kebaikan. Maka kita harus membenci terhadapa kejahatannya dan kita juga harus mencintai kebaikan. Agar tranformasi kita menjadi optimal alangkah baiknya kita TOTALITAS. Berpindah dari seorang yang jahat menjadi seorang yang baik. Begitu pula menjadi pengusaha. Pengusaha adalah lawan dari karyawan atau pekerja. Jadi ketika kita berniat untuk menjadi pengusaha maka kita harus berpindah dari mental2 KARYAWAN menjadi Mental2 BOS. Kita harus membenci menjadi Karyawan (dengan segala ketidak enakannya) dan harus menyukai menjadi Pengusaha (dengan segala kelebihannya) agar transformasi kita efektif. Caaranya adalah mari kita sama2 teriakkan kata2 berikut:

“Menjadi Karyawan itu SUSAH, menjadi Pengusaha itu MUDAH”

Benarkah semudah itu?? Mari kita bahas satu persatu. Menjadi karyawan tuh susah bgt, hari ini niat besok belum tentu  bisa langsung jadi.  kita harus menjalani proses pelamaran. Membuat CV, ikut wawancara, tes medis, tes ini, tes itu. Apakah pasti diterima?? Belum tentu… mungkin baru setalah 5 kali gagal mengikuti proses lamaran kita baru diterima kerja. Makin tinggi gaji yg diharapkan, makin banyak pula saingannya, apalagi PNS, mungkin 40 kursi diperebutkan oleh 4000 orang, begitu susah dan berat persaingannya. “gak kok, saya gampang kok dapat kerjanya”, eits nanti dulu… kerja dimana dulu nih?? Gajinya berapa?? Percuma dapat kerja klo Cuma gaji 1-2 juta/bulan, padahal kita kerja dari jam 8 sampai jam 17. Dari hari senin sampai jum’at. Sayang banget.Selain itu menurut saya, menjadi Karyawan tuh sama aja kita Merusak diri kita sendiri. Gimana tuh? Potensi kita yg besar ini hanya digunakan utk hal yang kecil dan sedikit. Kita harus patuh terhadap SOP dari perusahaan. Klo kita di bagian marketing yah marketing aja pekerjaan kita, di produksi yah produksi ajah, di analisis data yah dianalisis data, kita gak boleh mengerjakan pekerjaan diluar tugas kita. Harus Fokus atau bahkan sangat focus. Bayangkan jika selama 15 tahun kita seperti itu, mengerjakan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun, dibagaian administrasikah, di produksikah atau lainnya. Jadi teringat tentang seorang bapak, seorang karyawan PT.DI yang dipecat, beliau berumur 54 tahun dan sudah bekerja di PT.DI selama 15 tahun, kerjanya Cuma menganalisis data, setiap hari dari pagi sampai sore, dari senin sampai jum’at. Akhirnya setelah di pecat beliau tidak bisa apa2, karena selama beberapa tahun itu kerjanya hanya menganalisis data, sungguh suatu pengkerdilan terhadap potensi yang kita miliki.

Menjadi karyawan juga pasti takut dengan satu kata, yaitu “PEMECATAN”. Jelas. Karyawan mana yang gak takut dipecat, meski dia seorang general manager sekalipun. Berbeda dengan pengusaha, dia selamanya tak akan pernah bisa dipecat. Yang memecatnya adalah dirinya sendiri. Bangkrut,, kehilangan, kerugian dan segala macemnya itu bukanalah sebuah pemecatan dia menjadi seorang pengusaha. Pengusaha hanya bisa dipecat ketika dia ditarik nyawanya atau ketika ia menyerah dan memutuskan untuk menjadi karyawan atau pekerja, itulah waktu pemecatannya. Tapi semua ini atas ijin kita. Jadi kita sendirilah yang menentukan. Kita juga dapat mulai kapan saja menjadi pengusaha tanpa harus melamar atau membuat CV. Hari ini pun kita bisa menjadi pengusaha. Yang jelas membedakan antara karyawan dan pengusaha adalah waktu yang dimiliki. Karyawan memiliki waktu yang sedikit dan terikat. Masuk jam 8 pulang jam 17. Berangkat dari rumah jam 6 pagi dan sampai rumah jam 8 malem begitulah setiap hari senin sampai jum’at. Mau ngapa2in susah,waktu untuk keluargapun sedikit. Berbeda dengan pengusaha, pengusaha bukanlah memiliki waktu yang bebas atau free…tetapi pengusaha memiliki hak atau wewenang untuk menentukan jadwalnya sendiri, bukan dalam hal untuk bermalas2an, tetapi untuk menentukan apa yang harus diprioritaskan. Mengantar istri berbelanjakah, atau kedokterkah, mengantar anak kesekolah kah, bebas mengaturnya, tanpa terikat. Dan yang paling penting tanpa ada yang memarahi. Bayangkan, siapa coba yang mau marah, usaha2 kita, bisnis2 kita. Ya kan? Tetapi yang paling penting ketika menjadi pengusaha adalah kita bisa belajar banyak hal, tanpa menghambat potensi kita yg begitu besar. Kita bisa belajar menjadi orang SDM ketika mencari karyawan, belajar menjadi marketing dg menjual produk kita, belajar menjadi keuangan, belajar menjadi operator dan lan-lain. Kita bisa belajar itu semua secara bertahap.

Berbicara dalam konteks beragama, Ajaran Islam sangat mendorong entrepreneurship bagi umatnya, karena itu bagi seorang muslim, jiwa kewirausahaan tersebut, seharusnya sudah menjadi bagian dari hidupnya. Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar bekerja dan beramal, “Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasulnya dan orang beriman, akan melihat pekerjaanmu” (QS.9:105). Dalam ayat lain Allah berfirman, “Apabila kamu telah melaksanakan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah rezeki Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung (QS 62:10). Tidak terhitung pula banyaknya hadits Nabi yang mendorong pengembangan semangat entrepreneurship. “Perhatikanlah olehmu sekalian perdagangan, sesungguhnya perdagangan itu ada 9 dari 10 pintu rezeki” (HR Ahmad). ”Sesungguhnya sebaik-baik mata pencaharian adalah seorang pedagang (entrepreneur)”. (H.R.Baihaqy). Seolah-olah ada suatu hikmah yang tersembunyi dibalik perintah2 ini. Klo boleh menyimpulkan, perbedaan antara karyawan dengan pengusaha dalam konteks beragama adalah Menjadi karyawan Susah untuk sholeh(berbuat kebaikan) dan gampang menjadi SYIRIK, sedangkan pengusaha Bakat untuk menjadi Soleh dan mudah untuk member kebermanfaatan untuk ummat. Mau tau?? Dalam tulisan berikutnya insya Allah akan saya bahas. Terima Kasih.

“Bagi saya, SALAH itu gak pa pa, asal niatnya baik dan benar, klo kita ga tau salah, maka berdoalah agar Tuhan yang membenarkannya”

Road To Juli 2010 (Penghasilan bersih 20 juta/bulan)