Berbahagialah Atas Segala yang Menjadi Rizkimu

“Banyak orang yang menjalani hidup dengan cukup benar, tetapi tetap miskin karena kurang bersyukur” Wallace Wattles

Suatu ketika seorang hartawan kaya meninggal dunia dengan sebelumnya telah menuliskan terlebih dahulu pembagian harta untuk kedua orang putranya. Istrinya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Sepanjang hidup, si hartawan mengumpulkan hartanya satu per satu sedikit demi sedikit sehingga ia sangat mengenal semua harta miliknya. Oleh karena itu ia dapat membagi semua hartanya menjadi dua dengan nilai kurang lebih sama. Akan tetapi karena jenis-jenis harta itu tidak persis sama yang diterima oleh masing-masing anaknya maka keduanya dengan penuh iri menganggap bahwa anak yang lain mendapatkan warisan lebih banyak dibanding dirinya.

Setelah upacara penguburan yang meriah, kedua putra tersebut segera saling ribut dan bersikeras bahwa orang tuanya telah bertindak tidak adil karena anak yang lain mendapatkan harta warisan yang lebih banyak dari dirinya.

Karena keributan yang tak kunjung selesai dan bahkan makin memuncak, orang-orang sekitar mengusulkan keduanya untuk membawa masalah mereka ke pengadilan. Berharap bisa memenangkan pengadilan karena merasa dirinyalah yang paling benar dimana warisan saudaranya lebih banyak dari yang dimiliki, kedua putra yang seakan melupakan bahwa mereka bersaudara dan datang dari orang tua yang sama, akhirnya sepakat untuk mencari penyelesaian melalui jalur hukum.

Di pengadilan, sang Hakim yang dikenal sangat pandai dalam menangani kasus-kasus yang rumit, dengan sabar dan hati-hati mendengarkan keterangan dari kedua orang putra orang kaya tersebut secara bergantian.

Dengan cerdik, sang Hakim setelah berpikir sejenak kemudian berkata mereka, “Tuliskanlah semua harta kekayaan yang dikatakan oleh orang tuamu telah diwariskan untuk kalian masing-masing. Jangan sampai ada yang ketinggalan karena harta yang ternyata tidak tercantum dalam tulisan tersebut akan menjadi milik umum”. Demikian teliti keduanya dalam melakukan inventarisasi dan menuliskan semuanya dalam daftar masing-masing.

Sang Hakim dengan sabar menunggu sampai keduanya selesai menulis dan kemudian bertanya, “Apakah semuanya sudah lengkap kalian tuliskan ?”. Keduanya mengiyakan.

Hakim tersebut kemudian meminta keduanya untuk saling bertukar daftar dan memeriksa secara teliti daftar dari saudaranya. “Apakah kalian masih merasa bahwa warisan dari saudaramu lebih banyak dari yang kalian terima untuk diri masing-masing ?”. Tanpa ragu keduanya segera menjawab, “Iya Pak Hakim, orang tua saya memang tidak adil. Harta yang diwariskan kepada saudara saya jauh lebih banyak daripada yang kuperoleh. Kami meminta penyelesaian yang seadil-adilnya”. “Baiklah, karena kalian masing-masing menganggap bahwa daftar harta yang dimiliki oleh saudara kalian jauh lebih banyak dari daftar kalian sendiri maka silakan untuk saling menukarkan daftar masing-masing dan harta dalam daftar tersebut sekarang menjadi milik kalian”.

Sungguh suatu penyelesaian masalah yang cerdas dan adil atas permasalahan yang rumit itu. Sang Adik merasa harta Sang Kakak lebih banyak dari dia, sedangkan Sang Kakak merasa hartanya Sang Adiklah yang memiliki harta lebih banyak dari dia. Dengan kata lain, masing-masing dari mereka menginginkan harta saudaranya yang lain. Semua penyelesaian yang bijaksana ketika Sang Hakim memberi saran agar kedua hart mereka di tukar. Pertanyaannya adalah apakah mereka akan merasa puas setelah harta mereka ditukar?

Inilah yang sering terjadi pada kita, kita sering melihat orang lain lebih baik, lebih makmur, lebih kaya, lebih pandai, lebih sukses, lebih menarik dan berbagai “lebih-lebih” lainnya. Kita sering melihat keluar. Merasa iri atas apa yang telah di capai oleh orang lain. Jarang sekali diri ini bersyukur atas segala rizki yang diterima. Padahal, bisa terjadi sebenarnya malah orang lain yang kita pandang “lebih” itu ternyata sebenarnya menganggap dirinya kalah dibandingkan dengan kita. Orang lain sebenarnya juga merasa iri atas segala kelebihan-kelebihan yang ada pada diri kita.

Mulailah kita menerima atas segala rizki yang diberikan oleh Allah untuk kita. Mulailah kita menjadi orang yang bersyukur. Menerima keadaan diri sendiri apa adanya dengan selalu berikhtiar untuk menjadi lebih baik dan lebih lagi. Jadi marilah kita terus bersyukur karena syukur itu adalah jalan yang mutlak untuk mendatangkan lebih banyak kebaikan kedalam hidup kita.