ada tulisan bagus nih, diambil dari blog temen seperjuanganku diatas mobil sound, hehehehe…kita ketemu kalo ada AKSI mahasiswa di jakarta…semoga kita semua bisa mendapat pelajaran…

Hegemoni Orang-Orang Bodoh
Dec 22, ’08 9:19 PM
for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Saya dibuat terkejut ketika seseorang meminta saya memeriksa makalah dua puluh dua halaman yang dibuatnya untuk mata kuliah Filsafat Ilmu di sebuah program pascasarjana Profesi Psikologi Klinis Anak di UI. Tentu saja saya sangat tersanjung, karena Psikologi Klinis Anak adalah bidang yang sangat jauh dengan latar belakang pendidikan saya di jurusan Teknik Sipil. Mata kuliahnya yang diberi nama “Filsafat Ilmu” pun membuat saya sedikit ngeri pada awalnya. Yang membuat makalah bersikeras agar saya mengedit makalahnya, dan akhirnya saya pun menerima kehormatan itu, meskipun dengan seribu tanda tanya.

Pada akhirnya, justru sayalah yang belajar banyak dari makalah tersebut. Hal yang saya anggap menarik adalah pembahasan seputar munculnya ideologi materialisme. Ideologi jahat yang satu ini muncul dalam berbagai wajah, mulai dari globalisasi, kapitalisme, liberalisme, hingga hedonisme. Namun pukulan paling telak yang diberikannya, sebagaimana yang sering digarisbawahi oleh ust. Adian Husaini dan kawan-kawan, adalah pada cara pandang manusia terhadap ilmu.

Ilmu, kini diukur dengan berbagai cara yang sudah dimaterialisasi. Di sekolah-sekolah, ilmu diukur dengan kemampuan memberikan jawaban yang memuaskan terhadap setiap pertanyaan yang kemudian direpresentasikan dengan nilai di rapor. Tidak ada bedanya antara siswa yang memahami materi pelajaran dengan yang sekedar menghapal. Itulah sebabnya saya berulangkali menemukan siswa yang mendapat rangking sepuluh besar di kelasnya dan dianggap pintar dalam pelajaran Fisika namun tak mampu menjelaskan mengapa benda-benda yang berat jenisnya di atas berat jenis air akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya di bawah berat jenis air akan mengapung. Toh, guru dan sekolah tak merasa perlu memastikan apakah anak-anak didiknya mengerti (atau bahkan merasa peduli) tentang konsep berat jenis. Yang penting mereka bisa menyelesaikan soal-soal yang disodorkan kepadanya, sesuai dengan kurikulum yang ditentukan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Pada taraf yang lebih lanjut, manusia mengukur ilmu dengan uang dan penghasilan yang bisa didapat. Yang pintar adalah yang bisa menghasilkan lebih banyak uang, dengan cara apa pun. Di mana modal berkumpul, di situlah kita mesti mengabdikan kepandaian kita. Seorang aktifis liberalis pernah menumpahkan uneg-uneg-nya di blog saya. Menurutnya, banyak orang yang mengklaim keselamatan dunia-akhirat, padahal kenyataannya di dunia pun ia tidak berhasil. Yang dimaksud ‘tidak berhasil di dunia’ adalah penghasilannya di bawah empat juta per bulan, punya rumah pribadi, mobil pribadi, pakaian berdasi, dan semacamnya. Tidak hanya mengukur kepandaian dengan materi, ia bahkan mengukur ‘keselamatan’ dengan materi. Di matanya, orang yang ‘selamat di dunia’ adalah yang sukses dengan segala ukuran yang telah ditetapkan oleh ideologi materialisme.

Saya ingat, dalam salah satu episode sitkom Friends, ditunjukkan bagaimana karakter Joey Tribbiani mengundang tawa orang dengan komentar dangkalnya. Ketika mengutarakan pendapat tentang karya seorang sutradara teater terkenal, ia hanya bisa memberi komentar, “He rocks!” (secara istilah dapat diterjemahkan sebagai, “Dia keren banget!”). Para penonton pun tertawa, karena Joey tak mampu menyampaikan analisis yang lebih dalam daripada itu.

Di Indonesia, Anda juga bisa menemukan orang-orang sebodoh Joey. Bedanya, sementara para penonton sitkom Friends menertawakan kebodohan Joey, di Indonesia kita justru menganggap mereka itu keren, dan pada kenyataannya mereka memang memperoleh kesuksesan yang cukup besar secara materialistik. Sebuah program di salah satu stasiun TV swasta didedikasikan secara khusus untuk mengunjungi arena dugem di seluruh Indonesia, yang secara umum dapat dikatakan bahwa tempat-tempat itu hanya dikunjungi oleh orang-orang berkantung tebal. Dari puluhan episode acara tersebut, komentar dari para pengunjung nyaris tak pernah lepas dari komentar-komentar dangkal semacam “seru banget”, “musiknya OK”, dan semacamnya. Bahkan kelihatannya mereka tak mampu menyelesaikan sebuah kalimat sempurna tanpa menyertakan kata “gokil”.

Merekalah orang-orang bodoh yang dipuja-puja di negeri ini, dijadikan idola dan sasaran iri hati. Mereka, orang-orang yang menghabiskan ratusan ribu untuk datang ke tempat yang merusak telinga dengan selera musik rendahan, ternyata dianggap cukup menarik untuk ditiru oleh sebagian orang. Di AS ada Paris Hilton dan George W. Bush yang mampu mencapai ‘kesuksesan’ tanpa modal intelektualitas. Indonesia, entahlah!

Dengan segala kerusakan yang terkandung di dalamnya, film-film Hollywood juga bisa kita jadikan sumber pelajaran. Separah-parahnya kerusakan logika di dalam film-filmnya, paling tidak Hollywood selalu menjadikan karakter-karakter yang memiliki sifat unggul sebagai tokoh utamanya. Ada detektif yang bertahan dengan prinsipnya di tengah budaya korup, ada jagoan yang melawan traumanya sendiri, ada pejuang yang berusaha mengungkap kebenaran, dan sebagainya. Sejelek-jeleknya Hollywood, hanya tokoh hebatlah yang mereka jadikan panutan.

Sekarang, tengoklah sinetron Indonesia. Lagi-lagi tokoh utama tak berdaya, hanya mampu menangis dan pasrah atas tekanan orang lain. Tidak mampu bersaing, takut untuk mengutarakan pendapat, dan hidupnya disibukkan dengan rebutan pacar. Ada masalah sedikit langsung histeris. Jangankan berpikir jernih, kebanyakan malah tak tahu harus berbuat apa, atau langsung melarikan diri ke minuman keras. Itu tokoh utamanya, yang seharusnya menyedot simpati penonton dan dijadikan panutan.

Nampaknya memang ada konspirasi untuk menyebar kebodohan di negeri ini. Orang-orang bodoh terus diberi kesempatan untuk tampil. Skill mereka, betapa pun rendahnya, dihargai sangat mahal. Hidupnya glamor dan penuh kenikmatan (fisik) duniawi. Asal ganteng dan cantik sedikit, bisa jadi bintang film. Tidak ada urusan sama sekali dengan ilmu akting, karena kaum materialis hanya butuh orang-orang bodoh untuk menghipnotis bangsa Indonesia dengan ideologi mereka. Orang-orang bodoh pun diberi uang banyak agar semua orang ingin ikut bodoh seperti mereka.

Sekarang ini, kalau sudah diberi iming-iming ‘akan jadi idola’, orang tua pun rela anak-anaknya kehilangan masa kecilnya di atas panggung. Anak-anak yang seharusnya merasakan asyiknya mencari ilmu malah dipaksa bersaing seperti orang dewasa, dan merasakan pahitnya kalah hanya karena tak mampu menggalang cukup SMS.

Siapa pun Anda, dimana pun Anda berada, marilah melawan kebodohan. Hegemoni ini harus dihentikan!

wassalaamu’alaikum wr. wb.

sumber:
http://www.akmal.multiply. com