SURAT CINTA UNTUK SANG KOMANDAN

Umat manusia membutuhkan kader yang luapan hatinya menggenangi hati orang-orang di sekitarnya. Dan, dengan luapan rabbani itu, mereka dapat menggenangi hati orang-orang di sekitar mereka. Maka dengan cara itulah, manusia berubah dari satu keadaan menuju keadaan lain dan keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya.

(Hasan Al-Banna)

Komandan Gesa,

Hari demi hari berlalu, entah sudah berapa waktu yang telah kita habisakan di jalan ini, entah berapa lama lagi usia kita di dunia. Yang penting Ges, kita tidak boleh lelah. Sampai hari ini. Bahkan sampai kapan pun. Untuk terus mengulang-ulang cara kita membaca perjalanan panjang perjuangan dakwah. Ustadz Anis Matta sempat memberi taujih, agar kita senantiasa terus mengulang-ulang cara kita membaca perjalanan ini. Cara kita memahami setiap satuan capaian akan sangat mempengaruhi persepsi kita tentang keseluruhan perjalanan perjuangan kita Ges. Tidak semata bagaimana capaian itu dihasilkan, tapi juga bagaimana capaian itu dilanjutkan. Tidak semata bagaimana kemudahan didapat, tapi juga bagaimana gangguan dan rintangan datang menghambat.

Itu pula yang akan mengantarkan kita kepada sebuah sikap –sebagaimana dikatakan oleh Harun Al-Rasyid, “Saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan, sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung segala usaha maksimal.” Maka, perulangan waktu kita dalam konteks tahun, adalah sarana kita untuk membaca masa lalu, merenunginya dan merencanakan masa depan sebaik-baiknya. Sehingga kita benar-benar merencanakan kemenangan-kemenangan kita kedepannya.

Gesa saudaraku,

Roda kehidupan akan terus berlanjut untuk Antum. Kampus ini akan tetap dinamis selama ada kita, kampus ini masih punya harapan selama masih ada kita, dan selama di kampus kita ada harapan maka di Negeri kita harapan itu masih ada.. Bukan sombong Akhi, bukan tamak. Tapi wajah dunia kampus kita telah berubah. Pola pikir kawan-kawan kita telah bergeser. Coba antum bayangkan berapa banyak kasus “Mobil Goyang” yang telah kita jumpai, berapa banyak tempat-tempat mesum yang akhirnya bermunculan menjadi wajah kampus. Entah dimana jiwa-jiwa mahasiswa, jiwa-jiwa yang mencintai umat dan negeri ini lebih dari diri mereka sendiri, tatakala kawan-kawan kita dengan mudahnya mendukung kenaikan harga BBM, memiliki niat untuk memperoleh dana dari orang yang memiliki hutang besar terhadap masyarakat Indonesia. Saat kawan kita memiliki niat untuk menikmati dananya sedangkan di seberang sana Masyarakat korban Lapindo di Sidoarjo menangis merintih mencari tempat tinggal. Akhi, kita menyadari dengan hati yang tulus dan pikiran terbuka. Bukan kawan-kawan kita yang salah, namun sistem dunia hari ini yang telah mampu mengubah banyak orang yang tidak memperoleh pembinaan seperti kita misalnya. Kita pun menyadari dengan hati yang tulus dan pikiran terbuka bahwa kawan kita pun memiliki kelebihan dibandingkan kita. Itulah akhirnya mengapa, kita bukan dituntut hanya untuk bermain politik praktis, namun jauh lebih besar dari itu, agar kita bisa memberikan inspirasi bagi kawan-kawan kita, bahkan bagi dunia, bahwa kita memiliki tujuan suci nan mulia. Maka, setiap strategi yang kita lakukan, selipkanlah peluang bagi kawan-kawan kita agar mereka bisa mengambil hikmah dan inspirasi dari kita. Itulah cara-cara kita, itulah cara-cara seorang komandan. Sebagaimana Natsir beradu debat di ruangan dengan Aidit, namun ia tetap menjaga keakraban dengannya di luar arena debat. Itulah karakter-karakter kita, setiap langkah yang kita lakukan baik pada kawan maupun lawan kita, kita harus senantiasa menyertainya dengan Cinta.

Gesa Sang Falugon,

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai disana, Apabila ada cinta dihati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “Sebab tangan yang satu tak kan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain”. Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain. Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: Selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: mencintai. Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, Maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian, jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya: “Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder. Jadi tidak hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.

Kita bicara tentang masa depan komandan,

Usia 20 tahun adalah waktu yang cukup untuk memulai segalanya dan mengubah persepsi kita akan banyak hal. Jangan lupa, Muhammad Al Fathi menaklukan Konstantinofel saat berusia 23 tahun. Tapi itu tentunya tidak mudah bukan. Tulisan di awalan tadi ingin memberikan gambaran ke Antum, bahwa setiap apapun yang kita lakukan jika kita iringi dengan keikhlasan dan Cinta yang tulus, maka setiap apapun yang terjadi pada kita, bahkan ujian, cobaan, rintangan, hujatan, atau cacian sekalipun tidak akhirnya menjadikan kita patah arang, namun menjadikan itu sebuah pembelajaran yang akhirnya memunculkan kekuatan baru. Bukankah antum juga sudah dapatkan di SSDK bahwa setiasp apa yang terjadi pada kita adalah zero, namun respon kita yang menjadikannya positif atau negatif.

Maka komandan, tentunya mempersiapkan masa depan akan banyak tantangan yang akan Antum hadapi. Tapi sebagai seorang komandan yang saya liat hari ini, antum layak, antum siap untuk itu hanya saja bagaimana akhirnya kita meningkatkan lagi kapasitas kita. Ya, bicara tentang kapasitas kita, ini bicara tentang syarat – syarat fundamental untuk mewujudkan kemenangan atau leverage to win. Ada 3 syarat untuk mewujudkan Leverage to Win kata Anis Matta :

1. Kita harus punya yang namanya narasi / ide.

2. Kita harus punya yang namanya kapasitas.

3. Kita harus punya yang namanya sumber daya.

Kita harus tau apa ide yang kita tawarkan untuk kampus ini, untuk negeri ini. Jadi sekarang kita tidak lagi berfikir tentang sekedar bagaimana membesarkan tarbiyah di kampus ini, tetapi bagaimana membesarkan bangsa. Setelah itu kita berfikir ke level lebih tinggi bagaimana bangsa Indonesia punya kontribusi ke dunia. Begitu kita punya ide, punya narasi yang kita tawarkan kepada public. Kita akan menjadi leader. Makanya kapasitas pertama dari seorang leader itu adalah naratif intelijen. Kemampuan menguasai orang melalui kata. Itulah yang menjelaskan kenapa Soekarno masih bertahan sampai sekarang.

Pemimpin yang memiliki kapasitas nartif intelejen itu berrati ia mejadi agen dalam menyampiakan gagasannya; dan biasanya dia harus seorang penulis dia harus orang orator. Kalau antum lihat Khalid bin Walid itu bukan sekedar jago bertarung, tapi juga orator.Jadi komandan perang pun punya kadar yang besar dari naratif intelijen. tidak ada ceritanya orang kalau gak orator dan bukan penulis. Dia tidak akan abadi. Karena itu keterampilan itu mutlak. Itu dalam basic kompeten dari seorang leader.

Antum lihat lagi presiden-presiden Amerika yang berpengaruh dari yang lain. Umumnya itu adaalah begitu. Waktu perang dunia kedua siapa perdana menteri inggris?? Itulah kelebihannya dia. Umumnya orang Inggris itu tinggi-tinggi tapi dia pendek. Orator. Dari dialah istilah “Saya tidak punya sesuatu di Inggris, kecuali hanya darah, keringat dan air mata”. Itu dia ucapkan di parlemen, siapa bangsa yang sedang perang begitu dikasih kalimat-kalimat begitu, maka abadilah pidato itu.

Komandan Gesa,

Antum punya waktu banyak untuk menyiapkannya. Menjadi Pemimpin itu bukan hanya menang Pemilu saja akhi. Kita pun bisa mempin meskipun tanpa memenangkan, meski secara kekuasaan kita tidak punya. Namun kapasitas-kapasitas inilah yang harus kita miliki.

Selama ini, melalui perenungan-perenungan yang panjang, ane melihat ada kelemahan besar di tubuh kita, kita senantiasa banyak menggantungkan diri pada ikhwah yang lain, bahkan termasuk dalam pengembangan kapasitas kita. Ingat Ges, ilmu itu luas, bahkan itu bisa jadi tercecer di antara orang-orang kafir. Adalah hak kita untuk mengambilnya. Kadang ada barrier yang menghalangi kita untuk mengambilnya dari orang lain, entah mengapa. Namun ketergantungan itu membuat kita menjadi lambat dalam meningkatkan kapasitas diri. Buang saja Ges jika itu ada, toh kita tidak pernah tahu apa yang terjadi sampai kita mencobanya. Kita harus mau belajar mencoba, mau belajar salah dan menerima kesalahan, tidak perlu takut selama kita berada dalam koridor ilmiah dan akidah.

Komandan Gesa yang aku cintai,

Entah sudah berapa lama kita kenal, akrab. Namun setiap langkah bersama Antum, ada aura yang berbeda, ada rasa aman, rasa semangat, dan penuh pergerakan. Tentu ada cacat, ada luka, namun itulah kita manusia. Kita tidak bisa selalu bersembunyi di balik jubah putih “malaikat”, namun kita juga tidak boleh dengan mudahnya mengabaikan sisi positif ini lantaran alasan kita adalah manusia biasa, sehingga menyeringkan pemakluman-pemakluman.

Ane yakin orang tua Antum bangga memilik putra seorang Komandan seperti Antum. Seorang Komandan itu lahir dari kapasitasnya, bukan dari hasil proses pemilihan. Komandan itu tidak selamanya gelar yang disematkan oleh institusi, namun jauh lebih baik, ketika Komandan itu disematkan oleh orang-orang terdekat yang tau seberapa besar kapasitasnya. Komandan adalah orang yang siap kapan saja, dimana saja, berjuang!! Dan itulah Antum.

Perjuangan

Bulanku bercahaya walau redup

Tapi perlahan-lahan sinar itu….

Ah….Aku tak jelas…!!

P a d a m

Tiba-tiba sedikit cahaya menembus bola mataku

terbuka….

Sebuah matahari muncul di kelabunya awan

Asaku bangkit, aku bangkit

Dia tersenyum padaku dan ah…

Ada sedikit bahagia dalam jiwaku

Dia siapkan busur dan anak panah

Ia panah bulanku….

Kena !!

Darah hitam mengalir kental

Bulanku sekarat dan sempat bertaubat

Darah itu semakin mengental

dan bulanku meninggal….

Entah mengapa aku tidak menyesal

Ia ajakku tinggalkan bulanku

hadapi hari-hari penuh pengorbanan dan perjuangan

Aku berjalan di atas jalan-Nya

Hari ini, dengan bangga aku ketikkan di kertas ini, aku katakan Pada dunia, bahwa telah lahir sesosok manusia yang siap menantang dunia, mewujudkan mimpinya menjadi realita. Sesosok manusia yang siap berjuang dengan peluhnya, hartanya, atau bahkan jiwanya. Yang tau perjuangan apa yang ia lakukan, di jalan apa ia jalani. Yang tau siapa yang dipimpinnya, siapa yang menjaganya, dan tau siapa musuhnya. Yang tau apa yang terjadi dengan saudaranya, peduli dengan orang-orang sekitarnya, peduli dengan nasib umat ini. Yang waktu hidupnya lebih banyak diisi dengan belajar, berjuang, merenung, dan kembali memikirkan apa yang bisa ia baktikan pada negeri, pada umat ini.

Meski demikian ia hanyalah manusia yang cacat adalah wajar untuknya. Namun bukan manusia biasa, ia mau berjuang untuk melawan nafsu, mau berjuang untuk umat, dan mau menunda banyak waktu luangnya untuk dinikmatinya kelak di negeri akhirat yang damai.

Ya, dengan bangga kusematkan padamu, dengan bangga kuketikkan

“KOMANDAN GESA FALUGON”

Gilang Widyawisaksana

Waktu telah menunjukkan pukul 2.09 dini hari. Untuk mengenang bahwa 20 Tahun lalu telah lahir anak manusia yang siap berjuang bersama di jalanNya, bukan untuk siapa, tapi untuk kami, karena kami hanya ingin Dia. Itu saja. titik