Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , ,


oleh : Gesa Falugon (Peserta Asrama Kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri Angkatan IV)

Mengapa seorang Abu Bakar Ash-shidiq rela menginfaqkan seluruh hartanya untuk jihad Islam, tanpa menyisakan sedikitpun untuk diri dan keluarganya??”

Mengapa pula Utsman bin Affan menolak jual beli dengan para saudagar Arab yang menawar perniagannya dengan harga yang teramat berlipat, namun ia lebih memilih untuk menginfaqkan perniagaan tersebut untuk da’wah Islam??”

Mengapa keluarga Yasir memilih dibunuh seluruhnya dari pada kembali kepada kekafiran??”

Mengapa Bilal rela menderita daripada mengikuti kaum quraisy??”

Apakah jiwa-jiwa luhur yang menyatu dengan jasad mereka lahir dengan sendirinya? Apakah akhlaq nan mulia itu terbentuk seketika?

Sudah sunnatullah bahwa terbentuknya individu yang berkepribadian islami dan berakhlak mulia akan melalui sebuah proses, salah satu prosesnya kita kenal sebagai tarbiyah. Tarbiyah adalah proses mempersiapkan individu atau masyarakat dengan persiapan yang menyentuh seluruh aspek kehidupannya meliputi : ruh, jasad dan pikiran. Tarbiyah juga merupakan sarana yang sangat penting bagi kehidupan individu dan masyarakat, karena dengan tarbiyah akan lahir Syakhshiyah islamiyah mutakamilah mutawazinah (kepribadian islami yang utuh dan seimbang) yang siap menjawab tantangan zaman dengan segala problematika, ujian dan cobaannya. Tarbiyah berlangsung kapanpun dan dimanapun. Salah satu moment yang Allah berikan kepada kita untuk melaksanakan tarbiyah adalah bulan Ramadhan atau sering disebut syahrut Tarbiyah (bulan pembinaan dan pendidikan). Kenapa bulan Ramadhan disebut bulan tarbiyah? Karena pada bulan ini umat Islam dididik langsung oleh Allah SWT dengan berpuasa, dan diajarkan oleh-Nya agar kita bisa menjadi individu yang pandai mengatur waktu dan nafsu.

Allah SWT mewajibkan kepada kita untuk berpuasa, sebagaimana dalam firmanNya  QS Al Baqarah 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Bulan Ramadhan dengan segala kelebihan dan keutamaannya adalah proses tarbiyah yang datangnya langsung dari Allah SWT. Hasil dari proses tarbiyah tersebut adalah lahirnya pribadi mukmin yang bertaqwa.Tarbiyah sendiri terdiri dari beberapa proses yaitu Tansyi’ah (pembentukan), Ri’ayah (pemeliharaan), Tanmiyah (pengembangan), Taujih (pengarahan) dan Tauzhif (Pemberdayaan) yang secara lengkap bisa kita dapatkan dalam ibadah dan aktivitas kita selama bulan Ramadhan. Proses-proses inilah yang harus dilakukan jika kita ingin mentransformasi diri dan masyarakat kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang bersih dan suci. Layaknya seekor ulat yang ditarbiyah oleh Allah SWT sehingga bisa menjadi kupu-kupu yang indah.

Proses pertama yaitu Tansyi’ah atau pembentukan. Pembentukan meliputi pembentukan ruhiyah ma’nawiyah, pembentukan fikriyah tsaqofiyah dan amaliyah harakiyah. Pembentukan yang paling penting dan mula-mula adalah pembentukan ruhiyah ma’nawiyah (makna ruh). Pada bulan Ramadhan Allah SWT menyiapkan pahala yang sebesar-besarnya dalam rangka membentuk ruhiyah kita. Pembentukan ruhiyah dilakukan dengan cara shalat, qiyamul lail, dhuha, puasa, zakat dan bersedekah. Pada bulan ini, semuanya dijanjikan oleh Allah SWT pahala yang sangat berlipat dibanding pahala pada bulan lain. Oleh karenanya kita diharapkan dapat memanfaatkan moment yang berharga ini untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sehingga kedekatan kita selama 30 hari ini dapat menjadi bekal yang cukup untuk melalui sebelas bulan lainnya. Keberhasilan pembentukan ruhiyah ma’nawiyah yaitu ketika kita bisa menjadi lebih dekat kepada Allah SWT. Setelah ruhiyah kita sudah benar maka selanjutnya yang harus dilakukan adalah membentuk pikiran kita dengan pengetahuan dan wawasan. Inilah yang disebut pembentukan fikriyah tsaqofiyah (pengetahuan pikiran). Pembentukan ini bertujuan untuk menjadikan kita orang yang berilmu dan berpengetahuan luas, tidak taklid buta dalam beribadah, dan menjalankan segala sesuatunya berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang jelas. Kita tidak ingin menjadi robot-robot ibadah, yang tidak mengerti mengapa kita harus beribadah, untuk siapa dan bagaimana caranya. Pembentukan fikriyah tsaqofiyah sangat , penting dalam menunjang ruhiyah kita. Setelah keduanya terbentuk, maka yang terakhir adalah amaliyah harakiyah, kita harus beramal nyata dan kongkret. Ilmu-ilmu yang kita pelajari jangan sampai hanya sebatas wacana yang hanya dipelajari tanpa diaplikasikan dalam bentuk ibadah dan perbuatan yang nyata. Bulan Ramadhan ini merupakan momentum yang baik dalam melaksanakan pembetukan hati, jiwa dan pikiran kita karena Allah SWT telah memotivasi kita dengan membuka pintu syurga yang selebar-lebarnya, menutup pintu neraka bagi orang-orang yang bertaubat dan kembali membentuk hati, jiwa dan pikiran mereka sesuai syariat Allah SWT. Sesuai sabda Rasulullah SAW, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa’.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i). Kita harus mampu memanfaatkan sarana-sarana tarbiyah dari Allah SWT selama bulan Ramadhan ini dalam membentuk pribadi kita pada sisi ruhiyah ma’nawiyah dan fikriyah tsaqofiyah.

Proses kedua adalah Ri’ayah (pemeliharaan). Ruh dan pikiran kita yang sudah kita bentuk dalam proses Tansyi’ah harus kita pelihara dengan sebaik-baiknya agar kita tidak kembali lagi ke pribadi yang kotor. Kita juga harus terus mengontrol dan mengevaluasi sehingga apa yang sudah kita bentuk tidak melemah, berkurang atau bahkan menghilang. Jika Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian maka akan terbagi menjadi 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari ketiga. Alangkah baiknya pada 10 hari pertama dan kedua kita gunakan untuk membentuk diri kita. Dua puluh hari adalah waktu yang cukup untuk merubah kebiasan seseorang. Para psikolog menyatakan bahwa untuk merubah kebiasaan seseorang diperlukan waktu sekitar 21 hari dengan melakukan kebiasaan baru kita terus menerus. Bila kebiasaan baik kita dalam Ramadhan dilakukan terus menerus akan menghasilkan sebuah kebiasaan yang akan berefek pada hari-hari setelah Ramadhan. Dengan demikian kualitas dan kuantitas amalan-amalan kita, pemikiran keislaman kita dan semangat kita tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Oleh sebab itu proses ri’ayah(pemeliharaan) menjadi penting disini. Indikasi keberhasilan dari proses ri’ayah adalah ketika kita berhasil menjadi orang baru yang jauh lebih baik ketika keluar dari bulan Ramadhan, tidak sekedar menjadi baik ketika Ramadhan saja. Hal ini dapat kita lihat dalam perilaku-perilaku kita ketika bulan Syawal. Apakah Ramadhan berbekas, atau hanya menghasilkan kesalehan semu sesaat.

Proses ketiga adalah Tanmiyah (Pengembangan). Ibadah-ibadah yang telah kita jalankan hendaknya semakin hari semakin kita kembangkan. Kita tidak boleh puas dengan apa yang sudah kita kerjakan, apalagi menganggapnya sempurna. Kita harus senantiasa mempunyai rasa semangat untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita serta memperbaiki kekurangannya. Seperti hadits nabi yang sudah sering kita dengar, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung, bila hari ini sama dengan kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi, dan bila hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka”. Hendaknya hadits Nabi ini menjadi sebuah inspirasi bagi kita agar kita bertekad untuk terus mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik setiap harinya.

Demikianlah proses-proses Tarbiyah yang harus kita laksanakan ketika kita ingin mentransformasi diri dan masyarakat kita kearah yang lebih baik. Semoga moment Ramadhan ini dapat kita pergunakan sebaik-baiknya untuk membentuk pribadi-pribadi yang betakwa dan islami. Wallahu’alam bishshowab.

Gesa Falugon_Teknik Material 2006