Oleh : Gesa Falugon (Pesrta PPSDMS Regional 2 Bandung)

Memperingati hari kemerdekaan Indonesia tidak cukup hanya di rayakan dengan acara ritual belaka atau hanya ceremoni-ceremoni tak berrasa. Melainkan kita harus berbenah dan menumbuhkan semangat kontribusi kita untuk bangsa. Karena bangsa yang tua ini perlu penyelamat dan perlu kita selamatkan. Bangsa ini perlu ruh baru untuk bangkit dari keterpurukannya dan kitalah ruh baru itu. Kita belajar saat ini adalah bukan sekedar untuk lulus kuliah dengan IPK bagus, atau mendapat perkerjaan dengan gaji yang tinggi lalu menikah dengan istri yang cantik dan sholehah. Tidak sesederhana itu. Tetapi kita harus memiliki satu cita-cita besar yaitu menyelamatkan negeri kita ini dari segala bentuk penjajahan. Penjajahan dalam bentuk kemiskinan, kebodohan, kelaparan, keserakahan, ketidak adilan dan segala bentuk penjajahan lainnya.

Negeri kita ini adalah negeri dengan jumlah muslim terbanyak di dunia. Seharusnya kita bisa menjadi bangsa yang maju dan sejahtera yang dapat dijadikan kiblat ilmu pengetahuan bangsa-bangsa di seluruh dunia. Namun sayangnya kita belum bisa seperti itu. Dari seluruh negara-negara lain kita adalah negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia, yang sampai saat ini tidak punya gaung sama sekali di pentas dunia. Kita perlu menyadari semangat untuk menciptakan transformasi besar dalam sejarah indonesia ini karena sejarah membuktikan bahwa para pemudalah yang berhak dan harus menjadi ruh baru dalam kebangkitan Indonesia ini.

Momen Hari Raya Kemerdekaan Indonesia ini sebaiknya dapat kita pergunakan sebaik mungkin, dengan merenung dan bertanya pada diri kita masing-masing. Benarkah Bangsa Indonesia yang carut marut ini dapat bangkit??dan Bagaimana kita bisa menjadi ruh baru bagi kebangkitan bangsa Indonesia?? Sebuah bangsa hanya akan bangkit ketika mereka mempunyai cita-cita besar. Mengapa kebangkitan kita setelah 100 tahun kemudian tidak berhasil mengangkat indonesia menjadi bangsa yang besar. Padahal penduduk kita terbesar keempat di dunia dan sumber daya alam kita sangat melimpah. Jika kita mempelajari dan menganalisis dengan seksama, cita-cita besar yang melatari kebangkitan nasional mulai dari cita-cita Budi Utomo, Syarikat Islam, Sumpah Pemuda kemudian pergerakan kemerdekaan tahun 1945, maka kita akan mendapat suatu fakta bahwa cita-cita besar bangsa kita adalah melahirkan Indonesia sebagai sebuah bangsa, sebuah negara yang berdaulat dengan cita-cita tertingginya adalah merdeka atau terbebas dari bentuk penjajahan fisik dari bangsa asing. Setelah itu selesailah perjuangan kita, kita tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Hasilnya setelah 63 tahun kita merdeka kita belum merasakan kemerdekaan yang hakiki sebagai bangsa yang besar, tiba-tiba saja bangsa ini nampak tua dan lelah seperti yang diungkapkan salah seorang politikus muda, Pak Anis Matta.

Bangsa Kita tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan persoalannya sendiri, sampai-sampai ada salah seorang politikus barat yang berpendapat bahwa Indonesia adalah bangsa yang tidak pernah tahu siapa mereka sebenarnya. Miris sekali. Kita seperti bangsa yang tidak punya arah karena tidak ada cita-cita besar yang ingin dicapai dari bangsa ini. Jadi, yang pertama-tama kita perlu perbaiki adalah cita-cita kita sebagai sebuah bangsa. Tentunya dengan terlebih dahulu menentukan fokus dan cita-cita kita sebagai individu karena cita-cita sebuah bangsa adalah akumulasi dari cita-cita individu. Maka dari itu dalam momen Hari Kemerdekaan ini mari kita bersama-sama berhenti sejenak dan mulai merenung untuk menentukan cita-cita kita untuk bangsa ini. Karena kita tidak bisa merubah bangsa ini secara langsung, tetapi kita bisa merubah apa yang bisa kita rubah yaitu diri kita sendiri. Mari kita bersama-sama mulai merubah diri kita agar mempunyai kapasitas sebagai seorang pemimpin yang kelak akan mencapai takdir kepemimpinannya yaitu memimpin bangsa ini. The World Must Change and The Leaders are The Ones who change it.