Sesungguhnya medan bicara itu tidak semudah medan berkhayal, Medan berbuat

tidak semudah medan berbicara, medan jihad tidak semudah medan bertindak.

Dan medan jihad yang benar tidak semudah medan jihad yang keliru.

Terkadang sebagian besar orang mudah berangan-angan namun tidak semua angan-angan

yang ada dalam benak mampu diucapkan dengan lisan. Betapa banyak orang

yang dapat berbicara namun sedikit sekali yang sanggup bekerja dengan sungguh-sungguh.

Dan dari yang sedikit itu banyak diantaranya yang sanggup berbuat

namun jarang yang mampu menghadapi rintangan-rintangan yang berat dalam berjihad.

Para mujahid adalah sekelompok kecil yang terdiri dari para ‘Anshor’ (orang-orang yang bersedia berkorban demi agama) yang biasa berbuat salah seandainya mereka tidak mendapat pertolongan Allah.

Maka persiapkanlah diri dan jiwa kalian, menggemblengnya secara benar dengan ujian yang cermat.

Serta ujilah jiwa kalian dengan tindakan, yaitu dengan suatu pekerjaan yang amat berat baginya.

Dan jauhkanlah jiwa kalian dari kesenangan dan kebiasaan yang buruk….

Saudaraku, putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan

dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat.

Dunia akan melihat bahwa da’wah kita adalah hidayah, kemenangan,

dan kedamaian yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang sedang dideritanya.

Dan setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia,

karena bumi tetap akan berputar dan kejayaan itu akan kembali kepada kita.

Dan hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya.

Maka bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya hari esok, kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti, kita harus berbuat dan terus melangkah, karena kita tidak mengenal kata berhenti dalam jihad yang suci ini.

“Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, sungguh benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.”

(Al Ankabut :69)

Dan hanyalah Allah-lah zat yang Maha Agung dan bagi-Nya segala puji.

-Asy-Syahid Iman Hasan Al Banna-

Saudaraku, tetaplah bergerak dan jangan pernah diam, karena diam itu identik dengan kematian dan karena diam itu mematikan. Selambat apapun gerakan yang kita lakukan akan jauh lebih baik ketimbang kita diam. Setiap gerakan akan menghasilkan perubahan. Kalau memang kita mampu berlari maka berlarilah sekencang mungkin dalam bergerak menuju cita dan mimpi kita. Namun jika kita tidak mampu berlari maka berjalanlah, ketika kita tidak mampu berjalan maka merangkaklah jangan pernah berhenti karena berhenti berarti mati.

Saudaraku, Percayalah tidak seorangpun dapat menghentikan langkah kita secara total, walau kaki kita dipatahkan olehnya, tentu kita bisa memakai kursi roda untuk berjalan, walau kursi roda kita diambil dan dijauhkan dari kita, tentu kita akan memakai tangan kita untuk merangkak sampai tak ada lagi alat yang dapat kita pakai, karena syahid telah menjemput kita.Amien. Namun ketika penyebab berhentinya langkah kita adalah karena kita sendiri, kemalasan kita, banyaknya alasan yang kita buat untuk membenarkan keputusan kita untuk berhenti, maka itulah alasan sebenarnya yang dapat membuat kita berhenti dan tidak seorangpun yang akan sanggup membantu kita.

Saudaraku, kita tentu berhak memilih dan memutuskan apapun dalam kehidupan kita, namun kita tidak dapat memilih konsekuensi dan akibat dari pilihan-pilihan kita. Setiap pilihan ada konsekuensi yang harus kita hadapi. Bukankah dulu kita tahu bahwa akan ada konsekuensi dari pilihan kita ini, kita ada disini, di jalan ini, adalah sebuah pilihan yang sudah kita ambil dan kita harus siap apapun konsekuensi yang akan kita dapat. Lalu, kenapa kita lari? Kenapa kita pergi dari masalah ini???

Saudaraku, terkadang kita berpikir alangkah menyenangkan kalau kita tidak punya masalah, kita bisa santai dan lepas dari semua beban tanggung jawab. Sekilas ungkapan tersebut benar, tapi tidak saudaraku. Dengan masalah kita akan banyak belajar makna kerja keras, makna ketekunan, makna kedewasaan dan dengan masalah-masalah yang kita hadapi kita akan dapat menemukan hal-hal baru yang dapat meningkatkan kualitas hati, pikiran dan hidup kita.

Sudahlah tak ada waktu untuk berkeluh kesah lagi, mari bersemangat dan terus bergerak. Ingat Cita-cita kita “Untuk Indonesia yang Lebiih Baik”.Allahu Akbar !!

Saudaraku, kalau bukan kita siapa lagi orang yang mau memikul amanah yang berat ini???”

Gesa Falugon “1426”

Teknik Material ITB 06

Komandan Force-T GAMAIS ITB