Oleh: gesafalugongesa | 1 Mei 2009

Berbahagialah Atas Segala yang Menjadi Rizkimu

Berbahagialah Atas Segala yang Menjadi Rizkimu

“Banyak orang yang menjalani hidup dengan cukup benar, tetapi tetap miskin karena kurang bersyukur” Wallace Wattles

Suatu ketika seorang hartawan kaya meninggal dunia dengan sebelumnya telah menuliskan terlebih dahulu pembagian harta untuk kedua orang putranya. Istrinya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Sepanjang hidup, si hartawan mengumpulkan hartanya satu per satu sedikit demi sedikit sehingga ia sangat mengenal semua harta miliknya. Oleh karena itu ia dapat membagi semua hartanya menjadi dua dengan nilai kurang lebih sama. Akan tetapi karena jenis-jenis harta itu tidak persis sama yang diterima oleh masing-masing anaknya maka keduanya dengan penuh iri menganggap bahwa anak yang lain mendapatkan warisan lebih banyak dibanding dirinya.

Setelah upacara penguburan yang meriah, kedua putra tersebut segera saling ribut dan bersikeras bahwa orang tuanya telah bertindak tidak adil karena anak yang lain mendapatkan harta warisan yang lebih banyak dari dirinya.

Karena keributan yang tak kunjung selesai dan bahkan makin memuncak, orang-orang sekitar mengusulkan keduanya untuk membawa masalah mereka ke pengadilan. Berharap bisa memenangkan pengadilan karena merasa dirinyalah yang paling benar dimana warisan saudaranya lebih banyak dari yang dimiliki, kedua putra yang seakan melupakan bahwa mereka bersaudara dan datang dari orang tua yang sama, akhirnya sepakat untuk mencari penyelesaian melalui jalur hukum.

Di pengadilan, sang Hakim yang dikenal sangat pandai dalam menangani kasus-kasus yang rumit, dengan sabar dan hati-hati mendengarkan keterangan dari kedua orang putra orang kaya tersebut secara bergantian.

Dengan cerdik, sang Hakim setelah berpikir sejenak kemudian berkata mereka, “Tuliskanlah semua harta kekayaan yang dikatakan oleh orang tuamu telah diwariskan untuk kalian masing-masing. Jangan sampai ada yang ketinggalan karena harta yang ternyata tidak tercantum dalam tulisan tersebut akan menjadi milik umum”. Demikian teliti keduanya dalam melakukan inventarisasi dan menuliskan semuanya dalam daftar masing-masing.

Sang Hakim dengan sabar menunggu sampai keduanya selesai menulis dan kemudian bertanya, “Apakah semuanya sudah lengkap kalian tuliskan ?”. Keduanya mengiyakan.

Hakim tersebut kemudian meminta keduanya untuk saling bertukar daftar dan memeriksa secara teliti daftar dari saudaranya. “Apakah kalian masih merasa bahwa warisan dari saudaramu lebih banyak dari yang kalian terima untuk diri masing-masing ?”. Tanpa ragu keduanya segera menjawab, “Iya Pak Hakim, orang tua saya memang tidak adil. Harta yang diwariskan kepada saudara saya jauh lebih banyak daripada yang kuperoleh. Kami meminta penyelesaian yang seadil-adilnya”. “Baiklah, karena kalian masing-masing menganggap bahwa daftar harta yang dimiliki oleh saudara kalian jauh lebih banyak dari daftar kalian sendiri maka silakan untuk saling menukarkan daftar masing-masing dan harta dalam daftar tersebut sekarang menjadi milik kalian”.

Sungguh suatu penyelesaian masalah yang cerdas dan adil atas permasalahan yang rumit itu. Sang Adik merasa harta Sang Kakak lebih banyak dari dia, sedangkan Sang Kakak merasa hartanya Sang Adiklah yang memiliki harta lebih banyak dari dia. Dengan kata lain, masing-masing dari mereka menginginkan harta saudaranya yang lain. Semua penyelesaian yang bijaksana ketika Sang Hakim memberi saran agar kedua hart mereka di tukar. Pertanyaannya adalah apakah mereka akan merasa puas setelah harta mereka ditukar?

Inilah yang sering terjadi pada kita, kita sering melihat orang lain lebih baik, lebih makmur, lebih kaya, lebih pandai, lebih sukses, lebih menarik dan berbagai “lebih-lebih” lainnya. Kita sering melihat keluar. Merasa iri atas apa yang telah di capai oleh orang lain. Jarang sekali diri ini bersyukur atas segala rizki yang diterima. Padahal, bisa terjadi sebenarnya malah orang lain yang kita pandang “lebih” itu ternyata sebenarnya menganggap dirinya kalah dibandingkan dengan kita. Orang lain sebenarnya juga merasa iri atas segala kelebihan-kelebihan yang ada pada diri kita.

Mulailah kita menerima atas segala rizki yang diberikan oleh Allah untuk kita. Mulailah kita menjadi orang yang bersyukur. Menerima keadaan diri sendiri apa adanya dengan selalu berikhtiar untuk menjadi lebih baik dan lebih lagi. Jadi marilah kita terus bersyukur karena syukur itu adalah jalan yang mutlak untuk mendatangkan lebih banyak kebaikan kedalam hidup kita.

Oleh: gesafalugongesa | 16 April 2009

Mug Murah!!!

Temen-temen kalo mau bikin mug murah disini ajah…cuma Rp 5.000,- per mug ada pring juga

http://istanamug.wordpress.com/

http://suriozakeramik.indonetwork.or.id/profile/surioza-keramik.htm

past murah dah dan berkualitas jelas…hehehe..jadi promosi ginih…

Oleh: gesafalugongesa | 2 April 2009

Kekayaan dan Kesuksesan yang Membuat Bahagia

Kekayaan dan Kesuksesan yang Membuat Bahagia

Benarkah orang kaya itu bahagia??

Benarkah orang yang memiliki kekuasaan itu juga bahagia??

Sepintas mungkin kita sering berpikir dan berangan-angan, betapa enaknya menjdi orang kaya, memiliki banyak harta, rumah besar dan bagus yang ada kolam renangnya, memiliki mobil pribadi yang mewah sehingga ingin kemanapun pergi nyaman dan mudah, memiliki banyak uang sehingga ingin membeli apapun gampang. Benarkah seperti itu?? Mungkin IYA mungkin TIDAK!

Kenyataannya, mengapa banyak orang kaya yang hidupnya menderita?? Kehilangan kebahagiaan disebebkan oleh kekayaannya sendiri. Tidak banyak dari mereka yang kehidupan rumah tangganya hancur. Keluarganya tidak harmonis, istrinya selingkuh, pergaulan anak-anaknya tidak jelas bahkan terjerumus kepada obat-obatan terlarang dan bahkan banyak orang yang “mengincarnya”. Tidak semua. Tetapi fenomena seperti ini cukup banyak. Walaupun memang banyak juga orang kaya yang hidupnya bahagia dan sejahtera. Dicintai keluarga dan masyarakatnya. Mengapa bisa ada perbedaan yang cukup mencolok seperti ini?? Mari kita simak cerita berikut ini.

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah,dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata:

“Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut.”
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”
Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar.”
“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suami
mu kembali,” kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.”
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,” kata pria itu hampir bersamaan. “Lho, kenapa?” tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, dan “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan”, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. “Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa di antara kami yang boleh masuk ke rumahmu.”

Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. “Ohho… menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen kebun kita.”
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta.”

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita.” Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa di antara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”
Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta.
Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. “Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?”
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar.
Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”

Jawabannya adalah CINTA.

Satu kata inilah yang akan menentukan apakah kekayaan yang kita miliki akan menjadi berkah dan kebahagiaan buat kita, atau malah akan menjerumuskan kida kedalam kesengsaraan. Sebelum kita mendapatkan kekayaan dan kesuksesan-kesuksesan pastikan hati kita berisi penuh dengan CINTA.

CINTA ingin memberi

CINTA ingin mengasihi

CINTA saling berbagi

CINTA melihat orang lain bahagia

Dan CINTA menjadi orang yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Inilah sebenarnya yang sedang dibutuhkan oleh bangsa kita yang sedang mengalami krisis. Para orang kaya yang penuh cinta, agar jurang antara orang-orang miskin semakin kecil. Para orang kaya yang peduli terhadap para tetangganya yang mengalami kesusahan. Para orang kaya yang sudah tidak lagi mementingkan kepentingan pribadi, mereka lebih mementingkan orang lain. Pada saat inilah kita akan yakin bahwa kekayaan dan kesuksesan yang kita peroleh membawa kebahagiaan untuk kita dan lingkungan kita. Tetapi, apakah definisi atau parameter dari orang kaya??tampaknya hati kita lah yang lebih mengerti.

Gesa Falugon

Mahasiswa Teknik Material ITB

Oleh: gesafalugongesa | 5 Maret 2009

Segala Sesuatu Tidaklah Sesulit yang Kita Lihat

Segala Sesuatu Tidaklah Sesulit yang Kita Lihat

 

“Segala sesuatu tidaklah sesulit yang kita lihat, Segala sesuatu lebih menguntungkan dari pada yang kita duga, Segala sesuatu pasti ada kemungkinan untuk berhasil”-maxwell

Marah dan Kesal. Itulah reaksi logis yang kita ekspresikan ketika kita mendapat musibah. Kadang kita bertanya dalam hati, “apa yang telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua?” atau bahkan kita sampai menyalahkan Tuhan, “kenapa Tuhan tega membiarkan ini semua terjadi pada saya?”

 

Benarkah seperti itu??

Suatu hari ada seorang anak yang sedang mendapat banyak musibah, lalu ia memberitahu ibunya bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Ia mendapatkan nilai jelek dalam ulangan, dimarahi oleh guru, tidak menang Lomba, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pun pindah sekolah ke luar kota. Ibunya sedang membuat kue ketika anaknya bercerita, lalu ia menawarkan apakah anaknya mau mencicipi kue yang sedang ia buat, dengan senang hati anak itu berkata, “Tentu saja, Mom.”
 
“Nih, cicipi mentega ini,” kata Ibunya menawarkan.

“Hueks,” ujar anaknya.

“Bagaimana dengan telur mentah ?”

“jijik ih, Mom.”

“Mau coba tepung terigu atau baking soda ?”

“Mom, semua itu menjijikkan!!.”

Lalu Ibunya menjawab, “ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak.”

Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya kan menjadi sempurna tepat pada waktunya.

“Maka Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Sesungguhnya bersama kesulitan ada Kemudahan”

Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.

Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan udara setiap hari, sinar matahari setiap pagi, sinar bulan setiap malam. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

Segala sesuatu tidaklah sesulit yang kita lihat

 

Kalimat diatas mengandung makna yang sama dengan kalimat bijak yang berbunyi, “If u think u can, U can. If u think u can’t, U can’t.” Jadi yang mengawali kesuksesan kita adalah bagaimana cara kita bersikap terhadap suatu masalah. Jika kita menganggap masalah itu sangat berat dan tidak ada penyelesaiannya, maka sampai kapanpun kita tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah tersebut. Tetapi sebaliknya, jika kita menganggap masalah itu sebagai sebuah tantangan yang harus kita selesaikan dengan senang hati, maka yakinlah, tanpa terasa berat kita akan dapat menyelesaikan masalah tersebut. Karena sebenarnya masalah utamanya ada dipikiran kita. Optimis atau pesimis. Karena segala sesuatu tidaklah sesulit yang kita lihat.

 

Segala sesuatu pasti ada kemungkinan untuk berhasil

“Pada setiap orang terdapat sedikit perbedaan, namun perbedaan sedikit itu akan menjadi besar, perbedaan yang sedikit itu adalah sikap, sedangkan perbedaan yang besar adalah sikap itu positif ataukah negatif.”itulah yang dikatakan oleh Clement Stone. Sebenarnya kita pun dapat dengan jelas membedakan apakah seseorang termasuk golongan orang yang berpikir positif atau negatif. Segala sesuatu ada kemungkinan untuk berhasil, itulah yang dikatakan oleh para pemenang. Segala sesuatu ada kemungkinan untuk gagal, jelas inilah pikiran dari para pecundang. Begitu tipis perbedaannya, tetapi besar dampaknya. Karena cara kita berpikir akan menentukan bagaimana cara kita melihat dan pada akhirnya akan menentukan cara kita bertindak. Jadi marilah kita belajar untuk selalu berpikir positif.

Oleh: gesafalugongesa | 6 Februari 2009

It’s Over

Kenangan yang Membingungkan

Seperti membuka sebuah Luka

Oleh: gesafalugongesa | 5 Februari 2009

Komandan yang Terluka

Menghilang

menghilang

menghilang

aku yang terbuang

Oleh: gesafalugongesa | 3 Februari 2009

Kita Butuh Kedamaian yang Indah

Kita Butuh Kedamaian yang Indah

Kedamaian berarti bila di tengah-tengah permasalahan yang ada semuanya itu tetap ada ketenangan di hati kita

Ada seorang raja yang menginginkan sebuah lukisan tentang kedamaiaan. Ia akan memberikan hadiah yang banyak pada seniman yang dapat membuat lukisan terbaik tentang kedamaiaan. Banyak seniman yang mencoba untuk membuatnya. Raja melihat semua lukisan itu. Tetapi hanya ada dua yang ia suka, dan ia harus memilih salah satu di antaranya. Salah satu lukisan itu menggambarkan danau yang tenang. Danau itu bagaikan cermin yang sempurna bagi gunung-gunung yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Di atasnya langit biru dengan awan putih di sana-sini. Semua orang yang melihatnya akan berpendapat bahwa itulah lukisan yang sempurna tentang kedamaian.

Lukisan yang kedua juga menggambarkan gunung-gunung yang tinggi dan tegak tetapi gunung-gunung itu tampak angkuh dan kasar. Di atasnya langit hitam berawan gelap dengan halilintar. Di bawahnya ada air terjun yang airnya bergejolak. Tampak tak ada kedamaian sama sekali. Tetapi di belakang air terjun itu ada sarang burung. Di dalamnya duduk seekor induk burung yang sedang memberi makan pada anak-anaknya dengan penuh kedamaian di antara riak gejolak air.

Lukisan yang mana yang akan Raja pilih?

Ternyata Raja memilih lukisan yang kedua. Sebuah lukisan yang tak menampakkan sebuah kedamaian visual. “Karena,” kata raja, “damai bukan berarti tempat yang tidak ada kegaduhan, keributan, permasalahan dan kerja keras. Kedamaian berarti bila di tengah-tengah permasalahan yang ada semuanya itu tetap ada ketenangan di hati kita. Itulah makna sejati kedamaian.” Sebuah kedamaian yang indah.

Hari ini teramat banyak permasalahan yang menimpa bangsa Indonesia. Kemiskinan, kelaparan, kebodohan, bencana alam, kriminalitas, pornografi dan lain-lain. Seakan-akan permasalahan ini tidak akan pernah pergi dari bangsa kita. Hal ini membuat kita berpikir bahwa disini tampak tak ada kedamaian sama sekali. Setiap hari banyak sekali masalah. Masalah-masalah ini membuat orang menjadi stress. Kebanyakan orang yang stress itu memilih untuk bunuh diri sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Ini jelas-jelas pemikiran yang salah total. Tetapi faktanya banyak sekali orang yang bunuh diri setiap tahunnya hanya karena masalah-masalah yang sepele: tidak bisa membayar uang Sekolah, tidak mendapat uang jajan dari orang tuanya, putus dengan pacar, dan masalah-masalah yang sangat cengeng lainnya. Sungguh miris sekali hal sekeceil ini bisa membuat orang nekat sampai bunuh diri. Jadi pantaslah kalau ada yang bilang bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa bermental tempe, bangsa yang bermental pengeluh. Sedikit kerja banyak mengeluh bahkan tidak bekerja pun banyak mengeluh.Bagaimana mungkin kedamaian bisa hadir disini.

Kedamaian yang menentukan kita sendiri. Kedamaian berarti bila di tengah-tengah permasalahan yang ada semuanya itu tetap ada ketenangan di hati kita. Ketenanganlah yang membuat hidup kita bisa damai. Masalah-masalah kita tidak akan pernah selesai sampai kita meninggal dunia. Karena Haakikat hidup adalah ujian yang penuh masalah. Dari masalah satu ke masalah yang lain. Dari masalah yang kecil ke masalah yang besar. Dari masalah yang mudah sampai masalah yang sukar. Tetapi yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah membebani seseorangpun dengan masalah-masalah yang tidak sanggup kita jalani. Keyakinan kepada Tuhan lah yang membuat hidup kita bisa menjadi tenang. Hanya itu syarat agar kita bisa tenang. Yakin pada Tuhan kita bahwa apapun yang terjadi bahwa inilah yang terbaik buat kita. Karena Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Bersama kesulitan pasti ada kemudahan.

Oleh: gesafalugongesa | 23 Januari 2009

Cerita Seorang Anak Piatu

Cerita Seorang Anak Piatu ……..

Ceritanya ada seorang anak cowok tunggal yang ditinggal mati mamanya pas ngelahirin dia. Sejak itu papanya jadi amat sangat workaholic sekali dan nggak nikah2 lagi. Ini anak tapi baek hati dan lemah lembut walopun cuma bareng pengasuh aja. Pas TK, sementara anak2 laen udah punya sepeda dia masih jalan kaki. pengasuhnya ngadu ke papanya,”Tuan, nggak kasian sama den Bagus ?masa sepeda nggak punya… apa tuan juga nggak malu?

” Iya..nih..papanya tuh tajir banget deh. Punya sekian perusahaan..

maka dipanggillah si anak, ditawarin mau sepeda yang kayak gimana merek apa..dan si anak cuma bilang,:

“Nggak usah repot2 pi, aku dibeliin bola item & bola putih aja..

” Lho kok gitu? Bingung dong papanya. “Kenapa bola item dan putih?”

“Nggak usah diterangin deh pi. Kalo papi punya uang yaa..beliin itu aja.” Yah, mengingat mereka nggak pernah ngobrol jadi papinya nerima2 aja.

Nggak berminat lanjutin, maka dibeliin lah tu anak sepeda generasi terbaru saat itu, yang paling canggih, plus bola item dan bola putih. Trus ni anak masuk SD lah.

Pas itu musim sepatu roda. Sekian lama pengasuh pratiin, ni anak nggak minta2 dibeliin sepatu roda sama papinya. Sore2 cuma duduk aja. Sepedanya juga ditaruh di gudang. Lagi nggak musim. Pengasuhnya laporan pandangan mata dong ke tuannya hingga si anak dipanggil lagi.

“Nak, kamu mau dibeliin sepatu roda kayak temen2 kamu?
kok nggak bilang2 papi. Nggak masalah cuma beli sepatu roda aja…”. Si anak bilang,”nggak pi, bola item dan bola putih saya udah rusak.. dibeliin lagi aja..nggak usah beli sepatu roda. Lagian lebih murah bola kan pi?

” Yee..si papi geram dong. Ni anak ngeremehin papinya sendiri, atau sok merendah ? So, tetep si papi beliin sepatu roda, plus bola item dan bola putih.

Baca Lanjutannya…

Oleh: gesafalugongesa | 8 Januari 2009

Menuju Sabuk Hitam Tae Kwon Do

imgp3133

Alhamdulillah….Lulus Ujian Tae Kwon do nya, Fiuhh…semakin dekat menjadi pemakai BLACK BELT Tae Kwon Do…

Semoga Lulus dari ITB aku bisa menjadi bagian dari Black Belt Indonesia…Amin…

Oleh: gesafalugongesa | 6 Januari 2009

Lihatlah Palestinamu…”No BACOT, ACT only”

palestina

Masihkah kita diam melihat ketidakadilan dan penindasan ini???

Bantuan untuk palestina bisa disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri a.n. MER-C No.Rek 009.0121.773 atau BMI no.rek 311.01856.22 a.n nurdin qq kispa

—————————–

bagi teman2 ITB yang ingin ikut berkontribusi, GAMAIS ITB mengadakan penggalangan dana melalui program “One man Ten Thousands Rupiah” dari tanggal 5-11 Januari 2009. Jika kalian menyumbang 10 ribu rupiah maka kalian akan mendapat gambar tempel PALESTINA yang menarik…Ayo..ayo…dukung….Target 20 Juta Rupiah nih…Allahu Akbar!!!

dapatkan di PJ Prodi masing2 angkatan

untuk lebih lengkapnya bisa hubungi Ryan T.Minyak 2006, Kepala Sektor Syiar dan Pelayanan Kampus GAMAIS ITB, 085652058060

Tulisan Sebelumnya »

Kategori